Kado Cerpen untuk Ultah DAM dari Rd M Maskur
(Peserta Penulisan Kreatif)
Mataku yang
cekung menatap tetesan-tetesan cairan glukosa di dalam tabung infus yang
menggantung di atas kepalaku. Kusadari betapa lemahnya aku sekarang. Lemah,
lemah seperti lidi yang rapuh. Tak lagi aku kuasa mengunyah makanan sendiri
seperti sedia kala. Aku bertahan hanya dengan cairan glukosa itu.
Sungguh aku
sudah benar-benar berada di titik nadir lemahku. Sering sekali aku bertanya
mungkinkah ini akhir lembar kisah hidupku? Berapa kali lagi aku diizinkan
menarik dan menghembuskan nafas di bumi ini? Berapa kali lagi mataku diizinkan
untuk mengerdip dan berapa kali lagi jantungku diizinkan berdegup?
Kalau kupikirkan
pertanyaan-pertanyaan itu terasa begitu sedih hatiku. Sedih, sedih tak
terbendung seperti air bah zaman Nabi Nuh yang mengalir yang tak bisa ditahan
oleh telapak tangan raksasa sekalipun, ia akan menenggelamkan segalanya, segala
perasaanku dalam lautan kesedihan.
Belakangan ini, selama dua hari terakhir. Semenjak penyakitku bertambah parah. Aku yang ringkih ini selalu saja terkenang
bayang-bayang kenangan masa lalu tentang ayah dan ibuku yang telah lama
berpulang ke pelukan-Nya.
Teringat aku
ketika menangis di pangkuan ibuku dulu, ketika itu dibelai-belainya rambutku
agar aku diam dan tersenyum kembali. Teringat ketika aku berhasil membawa rapor
dengan rangking satu bertapa girangnya aku dibawa ayah pergi ke pasar menuruti
semua kehendak nafsu anak kecilku.
Aku selalu termimpi-mimpi masa ketika aku
kanak-kanak ketika aku suka sekali bermain kelereng, terjun ke sungai, membelah
semak untuk mencari anak burung dan menggoda teman-teman yang perempuan bersama
teman-teman karibku yang pada nakal-nakal karena mereka memang dalam masa
nakal, masa kebanyakan kanak-kanak laki-laki yang hobi bertualang. Tetes air mataku
bila terkenang semua itu.
Dua bulan sudah
aku terbaring di sini, di rumah sakit Raden Mattaher, di ruang penyakit dalam.
Dua bulan yang lalu dengan berbekal kartu askeskin aku dibawa kemari untuk
dirawat seadanya. Di dalam ruangan penyakit dalam, di kamar nomor 3 ini ada
enam ranjang, masing-masing terisi penuh oleh manusia-masusia yang sakit.
Bermacam-macam penyakitnya, ada yang terkena penyakit tumor, penyakit uzur
karena sudah tua, kena malaria, bahkan yang terkena penyakit kanker prostat
juga ada di situ.
Terasa amat
perihlah hatiku bila berkumpul dengan mereka. Terasa benar kalau aku ini sedang
sakit, berpenyakitan, tak berguna lagi, hanya menjadi beban orang lain. Sedih
hatiku. Tubuhku tak lagi segagah dulu. Kini aku hanya tulang berbungkus kulit
yang digerogoti penyakit tbc dan diabetes yang menyiksaku seumur hidupku
semenjak aku tamat SMA beberapa tahun lalu.
***
Di ujung senja
ini, selalu saja aku rasakan damai seperti bayi yang dibuai ibu di dalam ayunan
kain yang digantung di ruang tengah rumah yang tenang. Aku belakangan ini
sangat suka dengan warna putih. Warna putih begitu sejuk di mataku. Warna kain
alas tempat tidurku yang putih terasa begitu lembut di mata. Putih suci.
Aku
terbaring di dekat jendela yang menghadap ke luar sehingga nampak di mataku
ketika matahari yang mulai bersembunyi ketika magrib tiba. Sungguh aku sangat
menyukai senja dan aku bersedih bila ia pergi ditelan malam.
Sayu mataku
menatap langit-langit kamar ruangan penyakit dalam nomor 3 ini. Kulihat
warnanya putih, suci. Hatiku jadi tenang menatap warna itu sebab akhir-akhir
ini aku amat menyukainya.
Sanak kerabat bergantian mengunjungiku di ruangan yang
penuh sesak dengan orang-orang sakit ini. Bila kulihat wajah mereka memandangku
dengan iba, aku sebisa mungkin tersenyum menahan perasaanku yang terasa begitu
sedih. Tak ingin kuperlihatkan kepada mereka bahwa aku ini sedang berada di
lembah kesedihan, di ujung senja yang sendu.
Aku tahu kalau
hati mereka merasa iba kepadaku. Tak ingin aku menambah-nambah keibaan dan
kegetiran di hati mereka bila melihatku yang ringkih ini menangis sedih.
Apa?
Aku seorang idealis. Ya, memang aku seorang idealis. Seorang idealis yang tak
mau memperlihatkan sedih di mata siapa pun, siapa pun. Kecuali kepada-Nya, aku
tak bisa berbohong kalau aku tengah bersedih. Cukuplah Yang Maha Melihat itu
yang menyaksikan derai air mataku jatuh berderai ke dalam hati dan menciptakan
samudra airmata yang sendu.
***
Aku dapat
merasakan itu. Dapat kurasakan aroma tubuh Izrail yang kian mendekatiku. Aku
tidak lama lagi di kolom ruang fana ini. Pernah suatu malam aku bermimpi
tentang sebongkah tanah berbentuk manusia yang mengajakku berbicara. Suara itu
"Aku telah lama menunggumu, kemana saja kau?" Aku hanya diam tak
menjawab. "Jawab pertanyaanku!" Suara itu sedikit membentak.
"Siapa
kau?"
"Kau lupa
padaku? Dariku kau diciptakan. Akulah tanah".
Begitulah,
percakapan yang selalu terngiang di telingaku semenjak mimpi itu kerap hadir
dalam tidurku. Semakin percaya aku tak lama lagi jantungku akan berhenti
berdetak, mataku akan berhenti berkedip dan paru-paruku tak akan lagi menarik
nafas. Aku akan mati. Tanah sudah rindu padaku. Mataku kini telah akrab
dengan warna putih. Kain alas tempatku berbaring ini seputih kain kafan.
Berkali-kali
sosok tanah itu hadir dalam mimpiku membentangkan tangan dengan wujudnya
berbentuk manusia, seperti hendak memelukku dan mencumbuku habis-habisan,
hendak melumatku dalam peluk birahinya, seperti seorang kekasih yang telah amat
rindu ingin mencumbu kekasihnya yang selama ini menghilang dari dekapnya.
Jambi, 18 Juni 2010
Rd. M. Maskur
Catatan:
Diunggah ke
internet pertama kali oleh DIMAS
ARIKA MIHARDJA pukul 01.10 WIB
di blog:
No comments:
Post a Comment
Silakan berkomentar.